Minggu-minggu ini berlalu dengan pelukan pilu yang menyertai kesedihan dan kegundahan. 

Wabah yang belum pernah terpikirkan selintaspun di hati dan jiwa manusia, sekarang menjadi luapan ombak tinggi yang datang bersahutan tanpa memikirkan siapa yang dia terjang.

Oksigen kini menjadi salah satu yang di cari dan diharapkan kehadirannya.

Seorang anak, siang itu berdebar hatinya pontang panting dengan motornya membawa tabung gas seberat 5kilogram. 

Dia berkeliling Jakarta berlalu mencari jalan tikus menghindari penutupan jalan oleh aparat. Sambil beberapa saat dia melirik ke handphonenya untuk melihat jalur peta dari Google maps yang membantunya menunjukan jalan tikus itu. 

Tujuannya satu.. Mengisi tabung yg dia bawa dimotornya itu dengan oksigen. 

Oksigen yg sangat dibutuhkan oleh ayahnya yang sedang terbaring berjuang bernafas memasukkan udara disekitarnya yg sulit dia lakukan.. Tubuhnya terlalu lemah untuk sekedar menghirup menarik oksigen kedalam paru-parunya.

Sang anak sudah sampai pada tempat yg di carinya, yaitu kios kelontong penjual gas oksigen. Kios kelontong yg sebelum pandemi tidak ada yg menyadari keberadaannya. 

Di depan toko kelontong itu dia tidak sendiri, puluhan orang dengan keadaan yang sama sudah berada disana. Antrian sudah mengular panjang, sepanjang harapan mereka untuk mendapatkan oksigen tersebut.

Antri ditengah terik Jakarta, dia bersabar..

Harapan itu memuncah, jarak dia dengan keselamatan ayahnya (oksigen) hanya berselang 3 orang lagi.

Dering telepon di jaketnya mengalihkan perhatiannya, ternyata itu dari Ibu..

"Nak.. Tidak usah mencari oksigen lagi, ayah sudah tidak ada.."

... Hening disekitar yang sebenarnya riuh ramai..

Langkah gontai keluar dari antrian dengan uraian airmata yg mengalir menyadarkan beberapa orang disekitarnya. Mereka ikut menitipkan airmata mereka kepada pipi.

Hampir dua tahun ini wabah memporakpondakan dunia, mari bersabar dengan prokes dan gantungkan doa-doa ke langit, Dia mendengar.. 

Tidak ada yg pantas dihaturkan kepada Dia pemilik langit kecuali positif thinking kita padaNya. Dia yang mengatur alur ini semua, 50.000 tahun sebelum bumi dibuatnya dengan dentuman besar.

Sang ayah kembali kepadaNya dimasa pandemi melanda, dan Dia menjanjikan pahala syahid bagi mereka yang meninggal karena Wabah.

Dengan kehendak Nya, 50.000 tahun sebelum bumi ini dibuat sang ayah sudah di anugrahi pahala yang sangat besar tanpa perlu mengangkat senjata, tanpa membunuh atau dibunuh.

Kepada mereka yg menitipkan airmata nya pada pipi, titipkan doa ku padaNya, saat ini Dia lebih mendengarmu dibandingkan aku yg lalai ini... Mintalah kepadaNya, Memohonlah, Merintihlah,..  

Ya Allah, angkatlah Wabah ini..

Be hero to trees, and trees will provide the hope (oksigen). 

Post a Comment

أحدث أقدم